Assalamu'alaikum
Dan izinkan gue membuka tulisan ini dengan Bismillahirrahmanirrahim
Lagi-lagi malam minggu melanda dan kali ini berbeda dari malam-malam sebelumnya. Sekarang gue tidaklah se-Labil dulu. Jika dulu gue selalu galau, merana, dan tentu saja LABIL. maka mulai sekarang, mulai malam ini, gue berusaha berubah. Pada awalnya gue berpikir berubah menjadi superman, spiderman, zorro, hulk, batman atau superhero Indonesia yakni 'Gatot kaca' tapi niat tersebut gue urungkan mengingat mereka semua adalah LAKI-LAKI -_- sedangkan gue adalah perempuan. Seorang perempuan yang akan menjadi Matahari. Amin ya Allah :)
Dan dipostingan kali ini, Insyaallah gue akan berbagi Ilmu, lebih tepatnya sedikit motivasi. Let's chek it out :)
Hari ini perjalanan gue dibuka dengan UTS Matematika Diskrit, dimana kejadian tersebut resmi membuat cuaca di otak gue yang tadinya ada pelangi langsung berubah menjadi badai disertai petir-petir. Dan untuk mengembalikan pelangi tersebut, maka tanpa sengaja gue menghadiri sebuah Talkshow.
Heartworker "Bekerja dengan hati" adalah judul yang gue dapatkan dari talkshow tersebut dimana Pembicaranya adalah "Gamal Albinsaid" mungkin diantara kalian sudah mengenal nama tersebut. Jika belum, silahkan searching di google maka akan muncul wajah tampannya beserta beragam prestasi yang ia raih. Seorang dokter muda yang sangat hebat, menurut gue.
Sebelum, sang dokter muda tersebut memulai kisahnya, gue sudah dinasehati terlebih dulu oleh gubernur tercinta "atuk" beliau memberikan motivasi yang intinya adalah 'Bersungguh-sungguhlah dalam mencapai mimpi" gue jadi sadar dan sebagai mahasiswi, gue sangat bersyukur bisa menapaki jalan kuliah, sedang diluar sana masih banyak orang-orang yang tak bisa mendapatkan hal yang gue jalani sekarang ini.
Setelah melewati seribu patah kata sang gubernur yang juga sempat melakukan standup comedy akhirnya Talkshow pun dimulai *jrengjrengjreng*
Divine Calling
Dalam satu episode kehidupan saya, ada salah seorang guru yang dengan kerendahan hatinya membimbing saya, lelaki tangguh itu adalah dr. Arief Alamsyah. Sosok yang sangat bijak itu pernah mengajarkan saya sebuah teori kehidupan yang tidak berlebihan jika saya katakan teori ini mengagumkan dan mengubah kehidupan saya. Setelah saya pelajari lebih mendalam, saya menemukan sebuah value yang tajam dalam konsep itu. Divine Calling, panggilan jiwa. Jika kita ingin hidup kita tentram, tenang, damai, sejuk dengan pencapaian yang optimal, pastikan hidup kita memenuhi 3 hal. Meaning, Pleasure, Strength. Saya akan sharing satu per satu.
Pleasure, carilah bidang yang kita sukai dan begitu bahagia menjalaninya. Apa yang membuat ana bergegas dari tempat tidur dan tidak sabar mengerjakannya, itulah pleasure. Kita rela melakukannya walaupun tidak dibayar, bahkan pada titik tertentu kita rela melakukannya walaupun harus membayar. Ingatlah pesan The only way to do great work is to love what you do.
Strength, cari bidang yang kita ahli dan punya ketangguhan di bidang tersebut. Mengerjakan hal yang kita sukai tanpa kapasitas yang memadai, hanya menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, pada tempat yang tidak memberhasilkan. Kalau kita mencoba sesuatu gagal, kita boleh mencoba lagi, tapi terkadang kita harus memberikan ruang dalam pikrian bahwa ini bukan bidang kita.
Meaning, Berapa banyak diantara kita mengejar sesuatu yang disesali para penghuni kubur. Seperti pesan Emha Ainun Najib, jangan matian-matian mengejar sesuatu yang tidak bisa dibawa mati.
Teori ini akan memberikan kita ketegasan untuk menolak hal-hal yang tidak kita sukai, memberikan kita keberanian menolak hal-hal yang kita tidak ahli, memberikan kita kekuatan untuk meninggalkan pekerjaan yang tak bermakna. Jika kita sudah menemukan divine calling kita, kita kan terus memikirkannya dan tak sabar mengerjakannya, itulah gairah. Ia akan tampak dari cara kita bicara, berjalan, dan menatap.
Kalau kita sudah menemukan divine calling ini hidup akan flow rasanya, nikmat, tampak tenang, teduh, damai, dan sejuk. Mungkin yang kita rasakan seperti yang disampaikan Martin Luther King,Jr “Jika seorang terpanggil menjadi tukang sapu, ia seharusnya menyapu seperti Michaelangelo melukis, Beethoven menuliskan komposisi musilnya, atau Shakespeare menuliskan puisinya. ia seharusnya menyapu dengan begitu baik, sehingga seluruh penghuni surga dan bumi akan berhenti sejenak sambil berkata disini telah hidup seorang penyapu jalan yang begitu hebat, yang melakukan pekerjannya dengan begitu baik“.
Namun, ternyata teori ini tidak sempurna. Saya pernah berbagi di salah satu komunitas matematika, salah satu dari mereka bertanya bahwa ia ingin menjadi bidan namun diminta orang tua mengambil matematika. Dilain waktu, saya pernah ditelpon seorang bapak yang meminta saya menasehati anaknya yang akan berhenti dari kuliah kebidanan. Lalu saya teringat QS. Al Baqarah : 216, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Kita harus membungkus divine calling itu dalam bungkusan tawakal.
Hikmah yang saya ambil dalam kejadian itu, ternyata terkadang pleasure kita tidak baik untuk kita. Secara prinsip, jika kejadian itu belum terjadi, cari bidang yang juga kita sukai, namun ketika Allah memutuskan lain, jika masih bisa kita ubah, ubahlah, namun jika tidak bisa diubah, yakinlah itu yang terbaik dan kemudian hari kita akan bersyukur, karena do’a kita tak dikabulkan.
Salam hangat,
Gamal Albinsaid
Dalam satu episode kehidupan saya, ada salah seorang guru yang dengan kerendahan hatinya membimbing saya, lelaki tangguh itu adalah dr. Arief Alamsyah. Sosok yang sangat bijak itu pernah mengajarkan saya sebuah teori kehidupan yang tidak berlebihan jika saya katakan teori ini mengagumkan dan mengubah kehidupan saya. Setelah saya pelajari lebih mendalam, saya menemukan sebuah value yang tajam dalam konsep itu. Divine Calling, panggilan jiwa. Jika kita ingin hidup kita tentram, tenang, damai, sejuk dengan pencapaian yang optimal, pastikan hidup kita memenuhi 3 hal. Meaning, Pleasure, Strength. Saya akan sharing satu per satu.
Pleasure, carilah bidang yang kita sukai dan begitu bahagia menjalaninya. Apa yang membuat ana bergegas dari tempat tidur dan tidak sabar mengerjakannya, itulah pleasure. Kita rela melakukannya walaupun tidak dibayar, bahkan pada titik tertentu kita rela melakukannya walaupun harus membayar. Ingatlah pesan The only way to do great work is to love what you do.
Strength, cari bidang yang kita ahli dan punya ketangguhan di bidang tersebut. Mengerjakan hal yang kita sukai tanpa kapasitas yang memadai, hanya menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, pada tempat yang tidak memberhasilkan. Kalau kita mencoba sesuatu gagal, kita boleh mencoba lagi, tapi terkadang kita harus memberikan ruang dalam pikrian bahwa ini bukan bidang kita.
Meaning, Berapa banyak diantara kita mengejar sesuatu yang disesali para penghuni kubur. Seperti pesan Emha Ainun Najib, jangan matian-matian mengejar sesuatu yang tidak bisa dibawa mati.
Teori ini akan memberikan kita ketegasan untuk menolak hal-hal yang tidak kita sukai, memberikan kita keberanian menolak hal-hal yang kita tidak ahli, memberikan kita kekuatan untuk meninggalkan pekerjaan yang tak bermakna. Jika kita sudah menemukan divine calling kita, kita kan terus memikirkannya dan tak sabar mengerjakannya, itulah gairah. Ia akan tampak dari cara kita bicara, berjalan, dan menatap.
Kalau kita sudah menemukan divine calling ini hidup akan flow rasanya, nikmat, tampak tenang, teduh, damai, dan sejuk. Mungkin yang kita rasakan seperti yang disampaikan Martin Luther King,Jr “Jika seorang terpanggil menjadi tukang sapu, ia seharusnya menyapu seperti Michaelangelo melukis, Beethoven menuliskan komposisi musilnya, atau Shakespeare menuliskan puisinya. ia seharusnya menyapu dengan begitu baik, sehingga seluruh penghuni surga dan bumi akan berhenti sejenak sambil berkata disini telah hidup seorang penyapu jalan yang begitu hebat, yang melakukan pekerjannya dengan begitu baik“.
Namun, ternyata teori ini tidak sempurna. Saya pernah berbagi di salah satu komunitas matematika, salah satu dari mereka bertanya bahwa ia ingin menjadi bidan namun diminta orang tua mengambil matematika. Dilain waktu, saya pernah ditelpon seorang bapak yang meminta saya menasehati anaknya yang akan berhenti dari kuliah kebidanan. Lalu saya teringat QS. Al Baqarah : 216, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Kita harus membungkus divine calling itu dalam bungkusan tawakal.
Hikmah yang saya ambil dalam kejadian itu, ternyata terkadang pleasure kita tidak baik untuk kita. Secara prinsip, jika kejadian itu belum terjadi, cari bidang yang juga kita sukai, namun ketika Allah memutuskan lain, jika masih bisa kita ubah, ubahlah, namun jika tidak bisa diubah, yakinlah itu yang terbaik dan kemudian hari kita akan bersyukur, karena do’a kita tak dikabulkan.
Salam hangat,
Gamal Albinsaid
Kumpulan paragraf luar biasa diatas gue ambil dari salah satu akun media sosial sang dokter muda, tetapi lebih kurang itulah yang beliau sampaikan pada saat Talkshow tadi. Maha suci Allah yang selalu melindungi hamba-hamba-Nya :)
Dan saat Talkshow tersebut berakhir, gue benar-benar sadar. Gue seperti terbangun dari kemalasan yang panjang. Selama ini, gue telah menjadi orang yang salah. Oleh karena itu, terima kasih sekali kepada bang Yusri Ardi sang ketua HMJ yang telah merekomendasikan acara ini :)
Saat gue menulis postingan ini, gue teringat lagi kata-katanya "Berbaktilah kepada Orangtua" Alhamdulillahirrab'alamin, Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam. Hamba bersyukur mempunyai keluarga yang sempurna. Mempunyai ayah, ibu, abang dan adik. Malam ini kami semua masih bisa tertawa bersama,merasakan indahnya kehidupan, indahnya sebuah keluarga.
" Maka nikmat tuhan mana lagi yang engkau dustakan?" Maha suci Allah tuhan semesta alam.
Gue juga mendapatkan ilmu yang penting hari ini. "Dosa peserta seminar adalah tidak merealisasikan ilmu yang sudah didapatkannya". Oleh karena itu, sebagai penebus dosa, gue berbagi Ilmu ini kepada kalian semua. Manusia itu mudah lupa, dan karena itu gue menulis untuk mengingatkan anda, dan tentu saja gue. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi, memotivasi sehingga kita bisa bersama-sama berubah menjadi Manusia Allah yang lebih baik lagi.
Ingatlah
selalu kematian, karena “Dia yang melupakan akhirat dan kematian, berada
dalam ketenangan yang membahayakan” (Imam Asy Syafi'i)
Wassalamu'alaikum :)
kakak selalu semangat buat nulis tapi internet yang mrupakan jembatan antara kakak dan dunia maya itu selalu menjadi penghalang :(
ReplyDeletesenasib kak, ini dapat pinjaman modem dari pak bupati :D Huahahhaa
ReplyDelete