Monday, December 19, 2016

"Ditinggal Mati" pas lagi sayang-sayangnya

Bismillahirrahmanirrahim

Mari biasakan memulai sesuatu dengan Basmala :)

Baiklah Assalamu'alaikum sobat pembaca labil gue dimanapun anda berada. Ehm ehmm, setelah sekian lama gue gak pernah curhat di blog lagi, akhirnya gue beranikan jari-jari ini mengetik apa yang sedang gue rasakan sekarang. Gue sekarang sudah semester tujuh, sudah tua ternyata. Sebenarnya ada banyak kisah yang mau gue bagi, ada banyak perjalanan yang gue lalui dan harusnya ditulis disini. Tapi, baru sekarang bisa nulis karena selain gua lagi stress tingkat kubik dengan skripsi, gue juga dirundung duka. Seperti yang tertera di judul "Gue ditinggal mati pas lagi sayang-sayangnya" hiks hiks hiks. Mengapa?

Bersambung...


Gue dari dulu itu gak pernah suka kucing. Ceritanya dulu pas esde gue pernah pelihara kucing, gue sayang banget sama dia. Gue selalu buru-buru pulang ke rumah biar bisa main bareng tu kucing. hingga suatu hari dia hilang entah kemana dan singkat cerita semenjak kejadian itu gue gak pernah suka kucing lagi, tepatnya gue takut kucing. (begitulah kejadian sejujurnya)

6 bulan yang lalu seekor kucing betina yang tengah hamil tua sering berkunjung ke rumah gue minta makan. Gue yang-walaupun-sudah-menetapkan-untuk-tidak-menyukai-kucing tetap kasihan lihat dia yang kelaparan, bagaimanapun gue masih berperike-kucing-an. Gue selalu ngasih dia makan kalau ada makanan di rumah, tapi saat itu gue tidak menyukainya hanya menjalankan tugas "Menyayangi makhluk Allah". Hari demi hari berlalu ternyata oh ternyata dia melahirkan di rumah, tepatnya di rak sepatu gue. Kucing itu melahirkan dua ekor anak yang lutu-lutuuu. Hati gue jadi luluh seketika dan sejak itu gue menjadi salah satu "Cat Lover". Gue mencoba mempengaruhi mak biar bisa ngerawat kucing-kucing lucu itu. Tetapi, mak yang saat itu belum berperike-kucing-an tidak mengizinkan. Mak bilang "Setelah kucing-kucing itu pandai jalan langsung dibuang aja". Gue terus membujuk mak, karena orang yang paling sering berubah pikiran itu adalah mak gue hahaha. Sepuluh hari setelah makhluk lutu lutuu itu lahir, gue harus meninggalkan rumah. Bukan karena gue diusir, tetapi karena gue pergi "KKN" melaksanakan tanggung jawab sebagai Mahasiswa Kece, Ehaak.  

Selama KKN gue dikabari ternyata mak gue gak jadi buang kucing itu. Alhamdulillaaaah. Ceritanya mak sama ayah pernah mau ngebuang kucing tetapi gak jadi karena kasihan melihat mereka yang begitu lutuuu. Akhirnya kami sekeluarga menyukai makhluk lutu lutuuu itu. Gue yang berada jauh dari rumah gak bisa ikut andil dalam pemberian namanya. Ami, adek gue yang gak ada jiwa kreatifnya memberi nama si putih dan hitam sesuai warna bulu mereka. Coba pikirkan 'Putih' dan 'Hitam' -_- gak ada keren kerennya. Yaah, nasi sudah menjadi bubur ayam, gue gak bisa kasih nama sesuai kehendak gue. Tadinya gue mau ngasih nama "Tiying dan Diyang" sama kayak nama ikan-ikan (telah wafat) gue dulu. 

Cerita gue singkat (lagi),
Sebulan yang lalu kami sekeluarga pergi jalan-jalan ke Sumatera Barat. Kedua kucing itu kami ajak karena mereka sudah menjadi anggota keluarga. Memang, membawa kucing dalam perjalanan cukup merepotkan dan membuat khawatir. But for all, we're happy. Hari berlalu gue semakin sayang dan cinta sama kucing-kucing itu. Hingga tadi malam gue harus menerima kenyataan pahit. 18 Desember 2016, pukul 09.50 si hitam meregang nyawa di depan mata gue. Dia telah pergi. Tak ada lagi si 'hitam' yang bisa gue panggil-panggil lagi. 'Hitam' itu kucing yang paling gue sayang. Dia punya bulu yang lebat dan lembut. Dia lucu karena setiap pagi selalu nyium gue minta makan. Dia akan selalu ganggu gue sebelum dia kenyang. Setelah 4 hari dia melawan sakitnya, akhirnya dia pergi. Tadi pagi mak dan ayah menguburkannya, gue gak pernah sanggup buat ngelihat dia ditanam bermandikan tanah. 

Jujur, gue begitu sayang sampai gue abadikan lewat tulisan ini. Walaupun seharusnya gue menulis skripsi yang ilmiah, tetapi gue tetap ingin menyampaikan perasaan gue. Sedikit rasa sesal karena malam itu tengah mati lampu, dan hujan turun gue memutuskan lebih asik dengan laptop. Tak menyangka dia akan pergi malam itu. Harusnya gue lebih memilih meluk dia daripada main laptop. Harusnya gue lebih cepat bawa dia ke dokter hewan. Sampai tadi pagi gue masih berharap ada keajaiban. Tadi malam bersama air hujan yang turun gue berdoa, katanya berdoa kala hujan turun terkabul. Gue berdoa "Semoga itu hanya mimpi, semoga besok saat gue buka mata si hitam akan hidup lagi, akan nyium gue lagi seperti biasanya" tapi yang namanya kematian tidak bisa kita hindarkan. Bahkan Harry Potter bilang " Tidak ada sihir yang bisa menghidupkan yang telah mati".  

Percayalah "Ditinggal mati" pas lagi sayang-sayangnya itu sedih tak terkira. Dari ini semua gue belajar untuk "Lebih mengingat mati" dan "Tidak mencintai apapun melebihi cinta ke Allah". Kadang, kita memang harus kehilangan untuk bisa lebih belajar banyak. Sekian dari gue yang tengah sedih bercampur stress. 

Wassalam


No comments:

Post a Comment

Dunia ini terlalu luas, jadi tinggalkanlah jejak langkahmu :)